Kamis, 10 Mei 2012

Pernak-Pernik OPA

Akhirnya.... Finally atau apa saja ungkapan kelegaan, ungkapan pembebasan dari "jeratan" tesis dan jeratan kemalasan yang terkutuk. Satu semester absen dari dunia tulis menulis blog, akhirnya niat ini cukup kuat untuk mendorong jari mengutak-atik keyboard. Satu semester bukanlah waktu yang cukup singkat untuk membiasakan jari menggikuti kemauan otakku yang cukup melesat cepat, karena ide muncul kurang dari satu detik dan bertahan tak lebih dari 5 detik (sight... risiko terbiasa dengan short term memory). Sperti biasa dengan bahasa yang mungkin serabutan tak jelas ujung pangkalnya, kali ini mencoba membahas "pernak-pernik" OPA, dari mulai cara pemasangan sampe dosa-dosa ketika memasangnya... (nah lo... serasa kayak TUHAN saja). OPA adalah kependekan dari Oro-pharyngeal Airway, alat untuk membantu membuka jalan nafas sementara (inget loh... sementara) akibat sumbatan lidah yang menggelayut turun dan menutup jalan nafas. Masih belum kebayang juga dengan OPA, kalo nenek buyut perawat, perawat senior sampe junior nyebutnya "Guedel" (baca gudel, pelafalan "e" seperti menyebut  "empat" bukan "e" pada kata "empati" karena kalau "e" pada kata "empati" gudel-nya bermakna anak kerbau), nah sebenernya "Guedel" yg biasa kita sebut tersebut adalah merk dari OPA, nah lo... (promo gratis sepanjang waktu nih si "guedel" sama perawat).
 
Pernah pasang OPA? saya pernah punya pengalaman lucu malah, dahulu waktu dapet jaga malam di tengah malam nan buta, pasien post KLL yang coma begonoh bunyi nafasnya snoring alias ngorok, langsung saja dipasang OPA sama salah satu perawat baru. Tak berapa lama dipasang, si Perawat langsung buat Askep, namun pas di evaluasi ternyata kok bunyi ngoroknya makin kenceng, dengan basa-basi dikit dan diskusi yang tidak alot kami lihat kondisi pasien bebarengan dan ternyata..... cara pemasangan OPA terbalik, lengkungannya menghadap ke atas, bukan kebawah.... yaaduh... pernah lain waktu karena kekecilan OPA juga masuk kedalam mulut. baik sekarang kembali ke topik hidayat.... 
 
Kapan OPA digunakan?
OPA dipakai digunakan pada indikasi pasien dengan gangguan airway (jalan nafas) yang tertutup akibat lidah yang jatuh sehingga menutup jalan nafas pada pasien tak sadarkan diri. Kondisi ini biasanya ditandai dengan bunyi nafas Snoring (ngorok). tindakan ini bertujuan untuk menahan lidah agar tidak menutup jalan nafas dan pemasangan OPA digunakan sementara sembari menunggu dilakukan intubasi. Yang menjadi catatan penting disini, pemasangan OPA TIDAK DIPERKENANKAN pada pasien dengan REFLEK MUNTAH, karena akan sangat berisiko terjadi muntah dan mengakibatkan aspirasi.

Penentuan ukuran OPA
Agar tidak tertelan dan masuk dengan pas dan tentunya alat bermanfaat dengan tepat, ukuran OPA yang masuk haru tepat sesuai ukuran. Cara penentuan ukuran OPA yang tepat ialah dengan mengukur dari sudut mulut hingga ke auditivus eksterna pasien. bingung? kira-kira begini, ambil OPA lalu letakkan di sudut mulut (paling pinggir bibir kita) dengan lengkungan menghadap bawah, nah kalau panjangnya pas sampai ujung cuping telinga berarti itu OPA yang pas....
 
Cara Pemasangan OPA




Terdapat 2 cara pemasangan OPA, yang pertama adalah tanpa bantuan alat dan yang kedua mengganakan bantuan Tongue Spatel. Cara pertama dilakukan dengan cara menyisipkan OPA secara terbalik (up slide down), dengan bagian cekungan menghadap keatas, masukkan hingga menyentuh dinding palatum (langit-langit mulut) lalu putar 180 derajat dan susuri sehingga lidah benar-benar ditekan bukan didorong oleh OPA. cara pertama tidak dianjurkan terhadap bayi dan anak-anak, karena dapat merusak mulut dan faring. Cara kedua yaitu dengan menggunakan bantuan Tongue Spatel, atau sudip lidah, caranya, tekan lidah dengan tongue spatel kemudian luncurkan OPA dengan menyusuri lidah dengan cekungan menghadap kebawah (TIDAK DIBALIK). setelah memasang OPA, pada pangkal OPA JANGAN DIPLASTER, karena jika pasien tiba-tiba memiliki reflek muntah OPA akan terdorong bebas keluar sehingga tidak malah menyebabkan aspirasi. jika pasien dengan bunyi nafas snoring namun ada reflek muntah, maka solusinya adalah pemasangan NPA (Naso-pharyngeal Airway), namun kendalanya adalah tidak semua rumah sakit siap sedia dengan alat ini. 

Naso-pharyngeal Airway
Akhir tulisan ini adalah, saya teringan dengan film nurse AOI ketika dia melakukan intubasi menggunakan alat-alat bengkel demi membuka airway seseorang... sebagai perawat itu adalah keputusan dilematis, buah simalakama. akhir kata, tulisan ini banyak sekali kekurangan, tak berniat menggurui siapapun, karena saya juga masih banyak harus belajar-belajar lagi.... saya tak takut tak punya jabatan dalam karir pekerjaan saya, namun saya sangat takut jika ilmu saya berhenti sampai disini... masukkan dari pembaca dan rekan-rekan sejawat sangat saya harapkan.. ilmu itu luas, untuk itulah kita saling berbagi...
Terima Kasih
Selengkapnya...

Minggu, 04 Maret 2012

Sementara Rehat

Terima Kasih Sudah Mengunjungi Blog Sederhana Saya, Banyak Masukkan dan Kritikkan.. semuanya OK... mari kita sama-sama membuka cakrawala Pengetahuan Kita, Ilmu Itu Luas, Benar dan Salah Bukan Kita Sendiri yang Mengetahui.... Tesis saya meminta perhatian lebih dari bulan Oktober memaksa saya tak bisa menyelesaikan satupun tulisan di Blog Ini, dan semoga Bulan Depan (April) Bisa eksis Nulis lagi....
Mari Kita Majukan Dunia Perawat... Curing Without Caring Is Nothing..... Selengkapnya...

Selasa, 27 September 2011

RAKERNAS ILMIKI VI Dibuka Hari Ini


Lembaga Mahasiswa Keperawatan Se- Indonesia (ILMIKI) melaksanakan Rapat Kerja Nasional yang Ke VI hari ini di Palembang . Lembaga mahasiswa yang baru saja berulang tahun yang ke 10 tahun ini akan melaksanakan Rapat Kerja Nasional hingga ahad esok. Oke Deh.. buat adek-adek mahasiswa perawat se Indonesia, selamat berjuang, semoga lancar dan sukses acaranya... di pundakmulah masa depan perawat ini... Semangat...!!
Selengkapnya...

Jumat, 23 September 2011

Mengenal Penanganan Sederhana Keracunan


Sebulan sudah blog ini liburan, kagak ada postingan, ketika memulai malesnya minta ampun. Sama halnya dengan nasib proposal penelitian thesisku, berniat baik memanfaatkan liburan puasa dan lebaran untuk merampungkannya, alhasil pra proposalku pun tak kelar, parahnya bahkan tema penelitian pun tak ditemukan. Ajaibnya, “Tugas” utama yang digadang-gadang tak tuntas diwaktu liburan, pra proposalku dalam hitungan kurang dari 3 jam kuselesaikan ketika tiba di Kampus… ooooh… the power of kepepet pun meununjukkan giginya… dan sembari menunggu kabar dari kampus tentang nasib tema thesisku, menyempatkan waktu untuk mengisi Blog ku yang lebih dari sebulan tak ada postingan berarti…

Tema kali ini dulu pernah dipublikasikan di catatan Facebook ku, kali ini mencoba me recycle, lagu aja banyak yang dinyanyikan ulang, jadi kagak ada salahnya menulis ulang catatanku sendiri. Dahulu kala, ketika masih “nongkrong” di IGD RSUD M. Yunus, kasus keracunan adalah kasus menarik namun bikin dongkol. Karena biasanya "meracun" diri yang menjadi trend lebih sering terjadi, dari sekedar iseng sampe kebablasan, dari satu tetes sampe satu botol,dari uji kualitas obat ( menguji kualitas racun serangga dan rumput dalam tubuh sendiri) sampe’ mencari perhatian atau pernah 3 rumah keracunan Ikan buntal sampai ada yang tewas. IGD juga pernah Dihebohkan (hiperbola) dengan rombongan pemakan "Ikan Merah" (masih sepupu gerombolan kaos merah dari Thailand) yang pusing-pusing hingga muntah dan lemas + (plus) satu orang yang menguji ketahanan tubuh dengan racun serangga. Menurut info ikan tersebut kaya akan protein, sayangnya jika ikan tersebut memakan terumbu karang beracun, racunnya menular kedalam tubuh kita. tapi jangan kuatir, kali ini saya gak mau bergosip tentang ikan, kali ini saya sedikit mengulas tentang keracunan (yang gak lengkap lengkap amat).

kita bisa mencurigai seseorang dicurigai menderita keracunan bila :
  1. Seorang yang sehat mendadak sakit.
  2. Gejalanya tak sesuai dengan suatu penyakit tertentu
  3. Gejalanya menjadi cepat jika ditambah obat dalam dosis yang lebih besar
  4. Keracunan kronik diduga bila penggunaan obat dalam waktu yang lama atau lingkungan pekerjaan yang berhubungan dengan zat-zat kimia.

Keracunan adalah masuknya suatu zat kedalam tubuh kita yang dapat mengganggu kesehatan bahkan dapat mengakibatkan kematian.


Zat yang dapat menimbulkan keracunan dapat berbentuk :
  1. Padat, misalnya obat-obatan, makanan
  2. Gas, misalnya CO, NH3
  3. Cair, misalnya alkohol, bensin, minyak tanah, zat kimia.
Seseorang dapat mengalami keracunan dengan cara :
  • Tertelan melalui mulut, contohna keracunan makanan, minuman.
  • Terhisap melalui hidung, misalnya keracunan gas CO
  • Terserap melalui kulit/mata, misalnya keracunan zat kimia

Berikut ini adalah Macam-Macam Keracunan yang sering terjadi di masyarakat
  • Keracunan Alkohol
Gejala keracunan alkohol :
  1. Kekacauan mental
  2. Pupil mata dilatasi (melebar)
  3. Sering muntah-muntah
  4. Bau alkohol
Apa yang dapat dilakukan sebagai pertolongan awal :
  1. Upayakan muntah bila pasien sadar
  2. Pertahankan agar pernapasan baik
  3. Bila sadar, beri minum kopi hitam
Penatalaksanaan di sarana kesehatan:
  1. Beri cairan Intravena
  2. Pasang Urine Kateter untuk memantau cairan
  3. Beri bantuan Oksigen
  4. Kolaborasi dalam pemberian obat
  5. Pantau secara kontinyu kesadaran penderita.
  • Keracunan asetosal (aspirin)
Gejala keracunan asetosal (aspirin) :
  1. Nafas dan nadi cepat
  2. Gelisah
  3. Nyeri perut
  4. Muntah (sering bercampur darah)
  5. Sakit kepala

Apa yang dapat dilakukan sebagai pertolongan pertama :
  1. Upayakan pertolongan dengan membuat nyaman pasien
  2. Bila sadar beri minum air atau susu
  3. Bawa ke sarana kesehatan
Penatalaksanaan di sarana kesehatan:
  1. Beri cairan Intravena
  2. Pasang Urine Kateter untuk memantau cairan
  3. Beri bantuan Oksigen
  4. Kolaborasi dalam pemberian obat
  5. Pantau secara kontinyu kesadaran penderita

  • Keracunan luminal dan obat tidur sejenisnya
Gejala keracunan luminal dan obat tidur sejenisnya :
  1. Refleks berkurang
  2. Depresi pernapasan
  3. Pupil kecil à akhirnya dilatasi (melebar)
  4. Shock à bisa koma

Apa yang dapat dilakukan sebagai pertolongan Pertama :
  1. Bila penderita sadar, berikan minum hangat serta upayakan agar penderita muntah
  2. Bila penderita tidak sadar, bersihkan saluran pernapasan
  3. Penderita dibawa ke sarana kesehatan terdekat
Penatalaksanaan di sarana kesehatan:
  1. Beri cairan Intravena
  2. Lakukan Bilas Lambung
  3. Pasang Urine Kateter untuk memantau cairan
  4. Beri bantuan Oksigen
  5. Kolaborasi dalam pemberian obat
  6. Pantau secara kontinyu kesadaran penderita

  • Keracunan arsen/racun tikus :
Gejala keracunan arsen/racun tikus :
  1. Perut dan tenggorokan terasa terbakar
  2. Muntah, mulut kering
  3. Buang air besar seperti air cucian beras.
  4. Nafas dan kotoran berbau bawang
  5. Kejang atau syok

Apa yang dapat dilakukan sebagai pertolongan pertama :
  1. Usahakan agar dimuntahkan
  2. Beri minum hangat /susu atau larutan norit
  3. Segera kirim ke puskesmas/rumah sakit

Penatalaksanaan di sarana kesehatan:
  1. Beri cairan Intravena
  2. Lakukan Bilas Lambung
  3. Pasang Urine Kateter untuk memantau cairan
  4. Beri bantuan Oksigen
  5. Kolaborasi dalam pemberian obat
  6. Pantau secara kontinyu kesadaran penderita

  • Keracunan bensin/minyak tanah
Gejala keracunan bensin/minyak tanah :
  1. Inhalasi : nyeri kepala, mual,lemah, sesak nafas
  2. Ditelan : Muntah,diare, sangat berbahaya jika terjadi aspirasi (terhisap saluran pernafasan)

Apa yang dapat dilakukan sebagai pertolongan pertama :
  1. Jangan lakukan muntah buatan
  2. Beri minum air hangat
Penatalaksanaan di sarana kesehatan:
  1. Beri cairan Intravena
  2. Pasang Urine Kateter untuk memantau cairan
  3. Beri bantuan Oksigen
  4. Kolaborasi dalam pemberian obat
  5. Pantau secara kontinyu kesadaran penderita
  • Keracunan makanan laut
Beberapa jenis makanan laut seperti kepiting, rajungan dan ikan lautnya dapat menyebabkan keracunan ;
Gejala :
  1. Masa laten 1/3 – 4 jam
  2. Rasa panas disekitar mulut
  3. Rasa baal pada ekstremitas
  4. Lemah
  5. Mual, muntah
  6. Nyeri perut dan diare

Apa yang dapat dilakukan sebagai pertolongan pertama:
a. Netralisir dengan cairan
b. Upayakan muntah

  • Keracunan jengkol
Keracunan jengkol terjadi karena terbentuknya kristal asam jengkol dalam saluran kencing. Ada beberapa hal yang diduga mempengaruhi timbulnya keracunan yaitu jumlah yang dimakan, cara penghidangan dan makanan penyerta lainnya.

Gejala :
  1. Nafas, mulut dan air kemih penderita berbau jengkol
  2. Sakit pinggang yang diserta sakit perut
  3. Nyeri waktu buang air kecil
  4. Buang air kecil disertai darah.

Apa yang dapat dilakukan sebagai pertolongan pertama:
  1. minum air putih yang banyak
  2. Obat penghilang rasa sakit dapat diberikan untuk menghilangkan rasa sakitnya.
Penatalaksanaan di sarana kesehatan:
1. Beri cairan Intravena
2. Pasang Urine Kateter untuk memantau cairan
4. Kolaborasi dalam pemberian obat (Meylon)

  • Keracunan jamur
Gejala alam yang muncul dalam jarakbeberapa menit sampai 2 jam.

Gejala :
  1. Sakit perut
  2. Muntah
  3. Diare
  4. Berkeringat banyak

Apa yang dapat dilakukan sebagai pertolongan pertama:
  1. Netralisasi dengan cairan
  2. Upayakan pasien muntah

  • Keracunan Makanan
Penyebab adalah staphylococcus atau bakteri lainnya. Seringkali menyebabkan keracunan dengan masa laten 2-8 jam.

Gejala :
  1. Mual, muntah
  2. Diare
  3. Nyeri perut
  4. Nyeri kepala, demam
  5. Dehidrasi
  6. Dapat menyerupai disentri

Apa yang dapat dilakukan sebagai pertolongan pertama :
  1. Muntah buatan
  2. Beri minuman yang banyak
  3. Pemberian antibiotik jika diperlukan


Prinsip penatalaksanaan keracunan
Repot ya... tapi intinya dalam penanganan keracunan, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

Mencegah /menghentikan penyerapan racun
A. Bila Racun ditelan, prinsipnya cuma dua:
Encerkan racun yang ada dalam lambung, sekaligus menghalangi penyerapannya dengan cara memberikan cairan dalam jumlah banyak. Pertolongan pertama yang bisa kita lakukan adalah dengan memberikan karbon aktif atau arang aktif ke korban. Di pasaran, ada arang aktif yang dijual. Salah satu yang terkenal norit.

Tablet berwarna hitam ini punya sifat arang aktif yang mampu menyerap apapun yang ada di sekitarnya, termasuk racun. Semakin banyak yang dimakan, semakin banyak racun yang diserap. Hanya saja, norit cuma menyerap racun yang masih di saluran pencernaan dan belum ikut beredar dalam darah.


Meskipun norit mampu menyerap banyak racun, norit nyatanya juga menyerap zat gizi dan vitamin yang terdapat pada makanan. Oleh karena itu, saat menenggak norit, korban juga harus terus diberikan minum air putih untuk menggantikan zat yang ikut terserap norit.

Bila norit tak tersedia, kita bisa menggantikannya dengan susu. Susu memiliki kelebihan mengikat racun yang ada dalam tubuh agar tak beredar dalam tubuh. Susu juga bisa merangsang muntah sehingga makanan beracun bisa ikut keluar.

Namun, tak semua korban keracunan bisa diberikan susu atau norit. Korban keracunan karena zat korosif seperti bensin dan minyak tanah pantang mengonsumsi susu dan norit. Pemberian susu dan norit malah bisa memperparah. Pengenceran dengan susu tidak boleh dilakukan pada penderita yang menelan kamper.
Upayakan pasien muntah, efektif bila dilakukan dalam 4 jam setelah racun ditelan. Dapat dilakukan dengan cara mekanik yaitu dengan merangsang dinding faring dengan jari atau suruh penderita untuk berbaring tengkurap, dengan kepala lebih rendah dari pada bagian dada. Muntah tidak boleh dilakukan pada keracunan zat korosif, keracunan zat kerosene, serta pada penderita tidak sadar.

Tindakan di atas tidak boleh dilakukan pada pasien yang tidak sadar. Segera bawa ke Rumah Sakit, penanganan dirumah sakit, biasanya dikerjakan dengan cara membilas lambung, yaitu memasukan Selang Kedalam lambung (NGT) lalu mengalirkan NaCl 0,9% 1-2L, tapi itupun tidak berlaku pada pasien keracunan zat korosif.

B. Bila racun melalui kulit/mata
a. Pakaian yang terkontaminasi dilepas
b. Cuci/bilas bagian yang terkena dengan air
c. Perhatikan jangan sampai penolong ikut terkena.
Selengkapnya...

Senin, 05 September 2011

SELAMAT IDUL FITRI 1432 H

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H, Maaf Lahir Bathin, jika ada kesalahan tulis dan bila ada konten yang menyinggung dan menzolimi harap dimaafkan... serta bila ada request yang belum terpenuhi harap diikhlaskan dulu... Admin sedang Lebaran, jadi libur sebulan Dulu, jadi postingannya ikutan libur.... SELAMAT LIBURAN.... Selengkapnya...

Senin, 25 Juli 2011

Rumus Yang Harus Diingat Perawat (Bag 1)


Sepertinya bulan Juli termasuk bulan yang penuh kemalasan bagiku… ide menumpuk-numpuk, tapi tak tergerak sedikitpun badan mengerjakan… huft.. semoga tak semakin panjang saja.. ide menulis topic ini sudah mulai terpikir dari akhir bulan yang lalu, dan sekarang harus begitu bekerja keras menuliskan ini..
Ketika jaman kuliah S1 dulu, bekerja keras menjelang ujian mengingat-ingat rumus yang harus diingat, begitu masuk dunia kerja rumus itu begitu saja pergi dari ingatan, begitu kepepet baru deh obrak-abrik diktat kuliah untuk mencari-cari bahan kuliah jaman dulu. Kali ini coba menulis rumus-rumus yang sering digunakan di dunia kerja yang kudu diinget nih…
1. Rumus Tetesan Cairan infus
Terkadang sebagai perawat, menghitung tetesan perawat lebih sering dilakukan dengan ilmu kirologi, walaupun ada beberapa yang tepat, namun tak banyak juga yang benar-benar meleset jauh, karena kondisi pasien tak bisa semua modal kirologi, beberapa penyakit gagal organ akan sangat berdampak buruk akibat kelebihn cairan yang kita berikan. Sambil mereview lagi, mari kita hitung rumus tetesan infuse
Macro
Jika yang ingin dicari tahu adalah berapa tetesan yang harus kita cari dengan modal kita tahu jumlah cairan yang harus dimasukkan dan lamanya waktu, maka rumusnya adalah:
Tetes/menit : (jumlah cairan x 20) / (Lama Infus x 60)
Jika yang dicari adalah lama cairan akan habis, maka rumusnya adalah sebagai berikut:
Lama Infus: (Jumlah Cairan x 20) / (jumlah tetesan dlm menit x 60)
Misal: seorang pasien harus mendapat terapi cairan 500 ml dalam waktu 4 jam, maka jumlah tetesan yang harus kita berikan adalah (500 x 20 ) / ( 4 x 60 ) = 10000 / 240 = 41,7 = 42 tetes/menit begitupun untuk rumus lama infuse tinggal dibalik aja.
Micro
Selang infuse micro adalah selang infuse yang jumlah tetesannya lebih kecil dari macro, biasanya terdapat besi kecil di selangnya, dan biasanya digunakan untuk bayi, anak dan pasien jantung dan ginjal. Rumus untuk menghitung jumlah tetesannya adalah sebagai berikut:
Jumlah tetes/menit : (Jumlah cairan x 60 ) / (Lama Infus x 60)
Sedangkan rumus lamanya cairan habis adalah sebagai berikut:
Lama waktu : ( Jumlah Cairan x 60) / (jumlah tetesan dalam menit x 60)


2. Rumus Rumpleed test
Rumpleed test biasanya dilakukan untuk mengetahui tanda gejala awal adanya ptekee (bintik merah pada penderita DBD), pte
kee muncul akibat pecahnya pembuluh darah kapiler, sehingga pada fase awal tidak akan langsung muncul, oleh karena itu tujuan rumpled test adalah untuk mengetahui lebih awal adanya ptekee. Rumus yang dipakai adalah (Sistole + Diastole) / 2, lalu tahan 5 – 10 menit. jika terdapat sepuluh atau lebih bintik merah, maka dikatakan rumpled test positif, jika kurang maka disebut rumpled test negative. Misal kita melakukan tensi darah hasilnya 120/80 mmHg (systole : 120, Diastole: 80), maka (120 + 80)/2 = 100 mmHg, maka kita pompa hingga alat tensi darah menunjukkan angka 100 mmHg, kita tutup tepat di angka 100 dan tahan selama 5 – 10 menit, lepaskan baru kita hitung jumlah bintik merahnya. Rumpleed test merupakan uji awal adanya gangguan trombosit pada penderita DBD, namun bukanlah hal untuk menegakkan diagnose DBD.

3. Rumus Kebutuhan Cairan
Kebutuhan cairan pada tubuh data dihitung sebagai berikut:
Pada anak < 10 Kg , maka 10 Kg maka dihitung 100 ml/ BB. Missal BB 8 kg maka kebutuhan cairan adalah 8 x 100 = 800 ml/hari. Pada anak dengan BB 10 – 20 Kg, maka 1000 ml pada 10 kg pertama dan ditambah 50 ml per Kg penambahan berat badannya. Missal BB = 15 kg, maka 1000 ml ditambah 5 x 50 ml maka menjadi 1250 ml/ hari kebutuhan cairannya Pada seorang dengan berat badan > 20 Kg maka rumusnya adalah 1500 ml pada 20 kg pertama dan ditambah 20 ml/Kg sisanya, missal seseorang dengan BB 40 Kg, maka 20 kg pertama adalah 1500 ml, sedangkan 20 kg sisanya x 20 ml = 400 ml sehingga kebutuhan cairan seseorang dengan berat 40 kg adalah 1500 + 400 ml = 1900 ml/hari

4. Rumus luas Luka Bakar
Rumus luas luka bakar memang terkadang membuat kita harus lebih mengerutkan dahi, karena memang sulit-sulit gampang dalam penerapannya. Rumus pada bayi menggunakan rumus 10 – 20 %, jika tangan dan kaki yang terkena maka 10 %, jika kepala, leher dan badan depan dan belakang maka 20 %. Untuk dewasa
menggunakan rumus Rule of Nine yang digambarkan sebagai berikut:


5. Rumus Body mass index (BMI)

Body Mass Index dicari menggunakan rumus BB (Kg) / TB2 (m)
Underweight :
Kurang dari 18.5
Normal : 18.5 - 24.9
Overweight/pre-obes : 25.0 - 29.9
Obes I : 30-34.9
Obes II : 35-39.9
Obes III: lebih dari atau sama dengan 40
Selengkapnya...

Kamis, 30 Juni 2011

10 Kesalahan Perawat Dalam Injeksi IM


Sudah di penghujung bulan, laporan evaluasi surveilansku masih menggantung, sebulan lebih tak jua selesai… jika dirunut, terakhir kali kukirimkan laporan ke kampus adalah tertanggal 12 mei, berarti sebulan setengah aku tak produktif sama sekali menyelesaikan tugas lapanganku… huft… What ever lah, daripada memikirkan tugas tanpa action, coret sana sini di kertas, kayaknya seru nih kalo dilanjutin membuat postingan untuk blog saya...
Sekarang pengen nulis tentang 10 kesalahan perawat dalam melakukan injeksi IM, injeksi IM itu yang paling gampang, tapi banyak juga yang masih meninggalkan hal-hal sepele namun itu penting. Injeksi IM (Intra Muscullar), intra = didalam, muscular = otot, jadi jelaskan…?? Injeksi ini memasukkan obat kedalam otot, bukan dibawahnya ataupun diatasnya. Kesalahan-kesalahan apa saja sih yang biasa terjadi ketika injeksi IM?? Lets check it out..


1. Salah Letak
Kalau definisinya IM adalah kedalam otot, berarti kita harus mencari daerah-daerah yang memiliki otot yang tebal. Nah, lazimnya atau biasanya terdapat 3 posisi yang bis
a digunakan untuk injeksi IM. Yang paling sering adalah Ventrogluteal (di pantat), nah letak
pastinya adalah area sepertiga sias bagian atas. Cara paling mundah menentukan posisi ini adalah dengan meletakkan jempol di tulang pinggul, jari kelingking di ujung tulang ekor, nah bagi tiga (kirologi pasti bermain disini), area sepertiga bagian ataslah yang menjadi sasaran jarum suntik. Area kedua adalah
pada bagian lengan atas (deltoid) ada beberapa pendapat mengatakan letaknya 3 jari dari pundak, ada yang bilang 4 jari, kalo menurut saya sih sama prinsipnya, ambil sepertiga bagian atas itulah letaknya. Posisi yang ketiga adalah di vastus lateralis (paha) nah posisi ini lebih mudah, tinggal taruh 3 jari dari jalur setrikaan (pakai imajinasi) bagian luar… tapi pada paha relative lebih luas.

2. Salah Sudut
Secara teori sudut untuk melakukan injeksi ini adalah 90 derajat, tegak lurus dengan permukaan kulit. Lalu bagaimana jika kita menggunakan jarum yang tidak pada porsinya?? Boleh dimodifikasi dengan mengurangi sudutnya tapi ini benar-benar tidak dianjurkan

3. Lupa Aspirasi
Tidak melakukan aspirasi adalah kesalahan fatal dalam injeksi IM. Aspirasi adalah cara untuk mengetahui apakah posisi jarum kita tepat atau tidak. Dengan cara menghisap terlebih dahulu, jika tidak ada darah ataupun cairan lain yang masuk ke spuit kita setelah dihisap, maka dipastikan posisi kita sudah tepat. Jadi jangan sampai lupa melakukan aspirasi ketika injeksi IM.

4. Salah Spuit/Nal
Spuit dan Nal (jarum) yang dipakai untuk injeksi adalah jarum khusus, begitupun pada injeksi IM, tidak boleh kebesaran atau kekecilan, tidak boleh kepanjangan ataupun kependekkan, jarum untuk dewasa digunakan untuk usia dewasa, begitupun untuk anak. Ukuran Spuit dan Nal yang dipakai untuk dewasa adalah 21-23 G dan panjang 1 – 1,5 inch dan untuk anak-anak 25-27 G dengan panjang 1 inch, ukuran tersebut bisa dilihat di kemasan spuit.

5. Tidak memasukkan Nal secara Sempurna
Jika letak sudah sempurna, jarum tepat namun jika teknik yang dipakai salah maka injeksi IM ini juga tidak akan berhasil. Jika sudah menggunakan sudut 90 derajat, maka jarum harus masuk seminimal mungkin 2/3 bagian, biar lebih aman masukkan hingga pangkal jarum (nal), baru lakukan aspirasi lalu masukkan obat.

6. Salah Obat
Jangan lupa selalu perhatikan kemasan obat, walaupun itu adalah sebuah order, selalu perhatikan kemasan obat, karena disana akan ditemukan obat tersebut harus dimasukkan dengan cara apa. Jika obat tersebut dimasukkan dengan cara IM, maka akan tertera tanda “IM” jika IV maka akan tertera “IV” jika bisa keduanya maka “IV/IM”.

7. Salah Pasien
Kroschek nama dan diagnose pasien, lalu cocokkan dengan obat. Kesalahan yang tak dapat dimaafkan adalah memasukkan obat kepada pasien yang salah, jangan hanya mengingat kamar dan bed saja, tapi ingat kamar, bed, nama dan diagnose. Lalu klarifikasi dengan menanyakan langsung dengan keluarga maupun pasien.

8. Lupa Desinfeksi
Untuk menjaga agar tidak timbul infeksi setelah injeksi, maka sebagai perawat tidak boleh melupakan cuci tangan sebelum dan sesudah injeksi, memakai Hanscoon, dan lakukan desinfeksi pada daerah yang akan diinjeksi menggunakan kapas alcohol.

9. Tidak mengeluarkan udara dari spuit
Bekerja dengan hati, jika terburu-buru maka kita akan kehilangan ketelitian. Kadang kerja dengan terburu-buru akan melupakan hal sepele, hal yang sering terlupa adalah mengeluarkan udara dari spuit setelah memasukkan obat kedalam spuit, harus dibiasakan dan harus dilakukan. Tak boleh ada udara sedikitpun dalam spuit kita sebelum memasukkan obat kedalam tubuh.

10. Lupa Komunikasi
Tak semua orang bisa menerima injeksi IM, bahkan lebih banyak orang yang takut dengan injeksi IM. Jurus ampuh perawat adalah komunikasi, komunikasi terapeutik diharapkan dapat membuat apsien rileks dan mengurangi sakit akibat injeksi. Dengan komunikasi kita juga akan terhindar dari kesalahan salah pasien, dan jangan lupa informed concent. So jangan lupa komunikasi ya….
Selengkapnya...