Senin, 02 Agustus 2010

Trauma Dada


Wohoho.... dahulu kala pas dijaman kuliah, yang paling bikin trauma adalah pas "ngeceng" di UGD RS. dr. Mohammad Hoesin Palembang. aku bilang praktek disana seru, banyak pengalaman, pelajaran dan ilmu deh... bebas, tapi tetap diminta bertanggung jawab. seremnya, pas giliran Jaga malem, apalagi malem minggu.. wuih.. bisa gak istirahat semalaman (persis banget seperti masuk dunia kerja sekarang ini), nah pas malem minggu, biasanya yang jadi langganan adalah pasien KLL (kecelakaan lalu lintas), efeknya karena kasus beraneka ragam dan begitu menyeramkannya (dahulu kala), maka sekeluarnya dari ruang UGD, pada waktu itu saya bersumpah saya gak akan ngebut-ngebut kalo bawa motor (emang dasarnya gak punya motor).

Salah satu kasus yang lumayan populer adalah adanya trauma dada, padahal kalo kite review lagi, banyak sekali organ vital dalam dada kita, jadi trauma jenis ini biasanya perlu tindakan sesegera mungkin...


Trauma dada dari yang laing ringan bisa cuma muncul jejas saja di dada, tapi kalo paru-paru udah robek, ampuun dah... bisa panik kita dibuatnya, pernah juga saking kilatnya, pasien ketika baru masuk ruang triase sudah kehabisan nafas, RJP?? kalo kasusnya fraktur iga.. whats to be done..

sekedar pengen berbagi dikit bisa download materi trauma dada, pembelajaran sedikit lah... (kehabisan ide buat cuap-cuap ==> lagi gak mood abis buat nulis)
Selengkapnya...

Sabtu, 31 Juli 2010

Mengulang; Ketika digigit Binatang buas


Ngulang.. ngulang.. ngulang dan ngulang lagi... pas jaman kuliah dulu lupa ini bahasan siapa, kalo gak pak Sigit berarti ibu Hikayati, seperti biasa, pas kuliah hobinya maen-maen pas masuk dunia kerja bingungnya minta ampun.. itu dulu.. (meniru gaya iklan). Kerja di ruang Gawat darurat ternyata menambah banyak ilmu baru sehingga saya merasa "dipaksa" untuk membongkar bahan bahan kuliah yang ada... alhasil, yang diktatnya udah kececer jadi bungkus gorengan ya harus browsing dan nanyaing dengan teman2 sejawat... terutama para seniornya gawat darurat, mungkin dari pendidikan mereka masih tertinggal, dari segi pengalaman kayaknya harus diacungi jempol...

Kali ini coba membahas penatalaksanaan gigitan hewan, mengingat sangat tercengangnya saya banyak sekali kasus gigitan hewan liar di Bengkulu ini. Anjing, monyet, dan Babi, menjadi tersangka utama kali ini. Gigitan babi biasanya lebih menimbulkan banyak luka robek dengan berbagai posisi, ketimbang anjing atau monyet, dan tentunya ketiga tersangka ini diwaspadai membawa kuman anjing tak waras (Rabies).
Rabies (Penyakit Anjing Gila)adalah penyakit infeksi akut pada sistem saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Penularan penyakit ini oleh gigitan binatang terutama anjing, kucing, Babi dan kera.Karena angka kematian yang disesbabkan oleh penyakit rabies sangat tinggi, maka pencegahan dan penatalaksanaannya perlu disosialisakan lebih banyak kepada masyarakat dan terutama di daerah-daerah yang positif rabies.

Gejala Klinis

1. Stadium Prodromal

Gejala-gejala awal berupa demam, malaise, mual dan rasa nyeri ditenggorokan selama beberapa hari.

2. Stadium Sensoris

Penderita merasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka. Kemudian disusul dengan gejala cemas, dan reaksi yang berlebihan terhadap rangsang sensorik.

3. Stadium Eksitasi

Tonus otot-otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala hiperhidrosis, hipersalivasi, hiperlakrimasi dan pupil dilatasi.

Bersamaan dengan stadium eksitasi ini penyakit mencapai puncaknya, yang sangat khas pada stadium ini ialah adanya macam-macam fobi, yang sangat terkenal diantaranya ialah hidrofobi.

Kontraksi otot-otot Faring dan otot-otot pernapasan dapat pula ditimbulkan oleh rangsang sensorik seperti meniupkan udara kemuka penderita atau dengan menjatuhkan sinar kemata atau dengan menepuk tangan didekat telinga penderita.

Pada stadium ini dapat terjadi apnoe, sianosis, konvulsa da tahikardi. Tindak-tanduk penderita tidak rasional kadang-kadang maniakal disertai dengan saat-saat responsif.

Gejala-gejala eksitasi ini dapat terus berlangsung sampai penderita meninggal, tetapi pada saat dekat kematian justru lebih sering terjadi otot-otot melemah, hingga terjadi paresis flaksid otot-otot.

4. Stadium Paralis

Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi Kadang-kadang ditemukan juga kasus tanpa gejala-gejala eksitasi, melainkan paresis otot-otot yang bersifat progresif. Hal ini karena gangguan sumsum tulang belakang, yang memperlihatkan gejala paresis otot-otot pernafasan.

PENANGANAN LUKA GIGITAN HEWAN MENULAR RABIES

Setiap ada kasus gigitan hewan menular rabies harus ditangani dengan cepat dan sesegera mungkin. Untuk mengurangi/mematikan virus rabies yang masuk pada luka gigitan, usaha yang paling efektif ialah mencuci luka gigitan dengan air (sebaiknya air mengalir) dan sabun atau diteregent selama 10-15 menit, kemudian diberi antiseptik (alkohol 70 %, betadine, obat merah dan lain-lain).

Meskipun pencucian luka menurut keterangan penderita sudah dilakukan namun di Puskesmas Pembantu/Puskesmas/Rumah Sakit harus dilakukan kembali seperti di atas.

Luka gigitan tidak dibenarkan untuk dijahit, kecuali jahitan situasi. Bila memang perlu sekali untuk dijahit (jahitannya jahitan situasi), Kemudian pencegahan berikutnya adalah proteksi imunologi dengan pemberian vaksin anti rabies (VAR) terutama pada kasus yang memiliki resiko untuk tertular rabies. Vaksin diberikan sebanyak 4 kali yaitu hari ke-0 (2 kali pemberian sekaligus), lalu hari ke-7 dan hari ke-21. Dosisnya 0,5 ml baik pada anak-anak maupun dewasa. Pada luka yang lebih berat dimana terdapat lebih dari satu gigitan dan dalam sebaiknya dikombinasi dengan pemberian serum anti rabies (SAR) yang disuntikkan di sekitar luka sebanyak mungkin dan sisanya disuntikkan intra muskuler.

Selain itu harus dipertimbangkan pemberian vaksin anti tetanus, antibiotika untuk pencegahan infeksi dan pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri.

Catatan:
Bila binatang yang menggigit adalah binatan peliharaan, maka dianjurkan untuk mengurung dan memberi makan seperti biasa sembari diobservasi. jika binatang tersebut meninggal dalam jangka 2 minggu maka bisa dipastikan binatang tersebutmenderita Rabies. perlakuan sama juga untuk binatang-binatang liar, sebisa mungkin untuk ditangkap dan diobservasi.
Selengkapnya...

Kamis, 20 Agustus 2009

Mengenal Gawat Darurat saluran Kemih

Download materinya dengan klik judul Selengkapnya...

Mengenal Asuhan Keperawatan gawat Darurat Integumen

Ingin mengenal masalah-masalah gawat darurat integumen? silahkan download disini (klik judul) Selengkapnya...

Asuhan Keperawatan Sistem Pencernaan

Berbagai macam asuhan keperawatan sistem pencernaan dapat di download disini (klik judul untuk mendownload) Selengkapnya...

Proses Keperawatan

mengenal proses keperawatan dari A-z bisa di download disini (atau klik judul untuk mendownload) Selengkapnya...

Jumat, 14 Agustus 2009

Berbagi Pengalaman Menjadi Perawat Gawat Darurat

Gawat Darurat....!!!

Tercengang, Kaget serta takut waktu membaca surat penempatan setahun yang lalu,  ketika hari - hari yang ditunggu tiba. Selepas 14 hari melaksanakan Orientasi ruangan, kami para calon Pegawai Negeri Sipil sangat menantikan berita yang cukup mendebarkan itu. Tak sedikit yang menanggapi dengan santai, karena sebagian besar mereka sudah "menitip" tempat. Berbeda denganku, sangat berbeda malah, aku yang waktu itu hanya seorang perantauan, tak ada ikatan persaudaraan dengan seorangpun "punggawa-punggawa" Rumah sakit M. Yunus (waktu itu beredar kabar, kalau ingin posisi enak, rajin - rajinlah minta tolong dengan saudara "punggawa"), bahkan wajah kota bengkulu masih terasa asing bagiku. Ruang Gawat Darurat sangat jauh dari bayanganku waktu itu, maklum waktu sehari orientasi disana aku sedikitpun tak merasa nyaman, tak merasa hebat, dan tak merasa terkenal hingga harus direkomendasikan di ruangan tersebut.

Hari Pertama kulalui tak begitu mulus, pasien membludak.... dan sungguh aku juga tak membayangkan bahwa ruang IGD RS. M. Yunus Bengkulu, berbeda cara kerja dari tempatku mengambil praktik Ners ku di Palembang. Sutrisss... rasanya. 

"Tolong lanjutkan Hectingnya..." ucap perawat senior.....

Hecting..!!! oh my god!!! seumur-umur aku belum pernah hecting, bagaimana mungkin di hari pertama sudah harus hecting.... 

Dengan jujur kujawab, kalo aku belum bisa hecting, minta jadi operator saja (dengan gaya bijak), dan seniorku hanya tersenyum....

Mana Drip mana IV

haha... sekarang ketika mengingat kejadian dulu, makin banyak ketawa saja... antara Palembang dan Bengkulu istilah yang dipakai banyak berbeda (perasaanku).

Pernah aku disuruh TNPS, bingung lah... di palembang kami biasa menyebutnya TTV (lebih keren daripada Tensi, Nadi, Pernafasan, Suhu)

Lebih seru lagi ketika ada pasien diare tengah malam, mencret berkepanjangan tak tertahankan.... waktu itu order dokter mengatakan "tolong injeksi Ranitidin IV". yup!! prinsip IV, IM, SC, IC tentu aku belum lupa, hanya saja IV menurut saya waktu itu ada dua jenis, yaitu Drip (memasukan dalam botol infus), dan Bolus (langsung injeksi ke selang). alhasil, dengan rasa bimbang aku terjemahkan sendiri bahwa IV adalah Drip (setelah melalui 3 kali tanya dan jawab yang sama-sama tak nyambung dengan dokter), dan apa yang terjadi..... fiuh... terpakasa harus kocor sana sini biar obat yang satu ampul itu bisa masuk segera... ternyata emang tak mudah.

Pasien Steven Jhonson akibat larutan Penyegar

wow... ternyata penderita Syndroma Steven Jhonson, angka kejadiannya cukup banyak di Preovinsi Bengkulu... dan herannya, hampir semuanya diakibatkan meminum larutan penyegar.. Bombastis kan...

Banyak Belajar

Kalau sekarang ada yang bertranya apakah aku masih kecewa ditempatkan di IGD?? jawabannya tentu tidak, rasa lelah yang berlipat dari orang lain, banyak belajar hal baru sudah sangat memuaskanku sekarang. aku dulu tak membayangkan bahwa aku akan bisa memasang infus bayi seperti sekarang, mengerti istilah2 baru bagi telingaku, dan tentunya sekarang aku lebih banyak ilmu ketimbang dulu, dan aku harus lebih banyak belajar lagi...

Selengkapnya...