Sabtu, 31 Juli 2010

Mengulang; Ketika digigit Binatang buas


Ngulang.. ngulang.. ngulang dan ngulang lagi... pas jaman kuliah dulu lupa ini bahasan siapa, kalo gak pak Sigit berarti ibu Hikayati, seperti biasa, pas kuliah hobinya maen-maen pas masuk dunia kerja bingungnya minta ampun.. itu dulu.. (meniru gaya iklan). Kerja di ruang Gawat darurat ternyata menambah banyak ilmu baru sehingga saya merasa "dipaksa" untuk membongkar bahan bahan kuliah yang ada... alhasil, yang diktatnya udah kececer jadi bungkus gorengan ya harus browsing dan nanyaing dengan teman2 sejawat... terutama para seniornya gawat darurat, mungkin dari pendidikan mereka masih tertinggal, dari segi pengalaman kayaknya harus diacungi jempol...

Kali ini coba membahas penatalaksanaan gigitan hewan, mengingat sangat tercengangnya saya banyak sekali kasus gigitan hewan liar di Bengkulu ini. Anjing, monyet, dan Babi, menjadi tersangka utama kali ini. Gigitan babi biasanya lebih menimbulkan banyak luka robek dengan berbagai posisi, ketimbang anjing atau monyet, dan tentunya ketiga tersangka ini diwaspadai membawa kuman anjing tak waras (Rabies).
Rabies (Penyakit Anjing Gila)adalah penyakit infeksi akut pada sistem saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Penularan penyakit ini oleh gigitan binatang terutama anjing, kucing, Babi dan kera.Karena angka kematian yang disesbabkan oleh penyakit rabies sangat tinggi, maka pencegahan dan penatalaksanaannya perlu disosialisakan lebih banyak kepada masyarakat dan terutama di daerah-daerah yang positif rabies.

Gejala Klinis

1. Stadium Prodromal

Gejala-gejala awal berupa demam, malaise, mual dan rasa nyeri ditenggorokan selama beberapa hari.

2. Stadium Sensoris

Penderita merasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka. Kemudian disusul dengan gejala cemas, dan reaksi yang berlebihan terhadap rangsang sensorik.

3. Stadium Eksitasi

Tonus otot-otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala hiperhidrosis, hipersalivasi, hiperlakrimasi dan pupil dilatasi.

Bersamaan dengan stadium eksitasi ini penyakit mencapai puncaknya, yang sangat khas pada stadium ini ialah adanya macam-macam fobi, yang sangat terkenal diantaranya ialah hidrofobi.

Kontraksi otot-otot Faring dan otot-otot pernapasan dapat pula ditimbulkan oleh rangsang sensorik seperti meniupkan udara kemuka penderita atau dengan menjatuhkan sinar kemata atau dengan menepuk tangan didekat telinga penderita.

Pada stadium ini dapat terjadi apnoe, sianosis, konvulsa da tahikardi. Tindak-tanduk penderita tidak rasional kadang-kadang maniakal disertai dengan saat-saat responsif.

Gejala-gejala eksitasi ini dapat terus berlangsung sampai penderita meninggal, tetapi pada saat dekat kematian justru lebih sering terjadi otot-otot melemah, hingga terjadi paresis flaksid otot-otot.

4. Stadium Paralis

Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi Kadang-kadang ditemukan juga kasus tanpa gejala-gejala eksitasi, melainkan paresis otot-otot yang bersifat progresif. Hal ini karena gangguan sumsum tulang belakang, yang memperlihatkan gejala paresis otot-otot pernafasan.

PENANGANAN LUKA GIGITAN HEWAN MENULAR RABIES

Setiap ada kasus gigitan hewan menular rabies harus ditangani dengan cepat dan sesegera mungkin. Untuk mengurangi/mematikan virus rabies yang masuk pada luka gigitan, usaha yang paling efektif ialah mencuci luka gigitan dengan air (sebaiknya air mengalir) dan sabun atau diteregent selama 10-15 menit, kemudian diberi antiseptik (alkohol 70 %, betadine, obat merah dan lain-lain).

Meskipun pencucian luka menurut keterangan penderita sudah dilakukan namun di Puskesmas Pembantu/Puskesmas/Rumah Sakit harus dilakukan kembali seperti di atas.

Luka gigitan tidak dibenarkan untuk dijahit, kecuali jahitan situasi. Bila memang perlu sekali untuk dijahit (jahitannya jahitan situasi), Kemudian pencegahan berikutnya adalah proteksi imunologi dengan pemberian vaksin anti rabies (VAR) terutama pada kasus yang memiliki resiko untuk tertular rabies. Vaksin diberikan sebanyak 4 kali yaitu hari ke-0 (2 kali pemberian sekaligus), lalu hari ke-7 dan hari ke-21. Dosisnya 0,5 ml baik pada anak-anak maupun dewasa. Pada luka yang lebih berat dimana terdapat lebih dari satu gigitan dan dalam sebaiknya dikombinasi dengan pemberian serum anti rabies (SAR) yang disuntikkan di sekitar luka sebanyak mungkin dan sisanya disuntikkan intra muskuler.

Selain itu harus dipertimbangkan pemberian vaksin anti tetanus, antibiotika untuk pencegahan infeksi dan pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri.

Catatan:
Bila binatang yang menggigit adalah binatan peliharaan, maka dianjurkan untuk mengurung dan memberi makan seperti biasa sembari diobservasi. jika binatang tersebut meninggal dalam jangka 2 minggu maka bisa dipastikan binatang tersebutmenderita Rabies. perlakuan sama juga untuk binatang-binatang liar, sebisa mungkin untuk ditangkap dan diobservasi.

3 komentar:

  1. Salam Kenal dari Rekan Sejawat di Papua...! Blog-nya Bagus Bro...! Ditunggu Kunjungan Baliknya di http://keperawatanku.blogspot.com/

    BalasHapus

mari bijak berkomentar disini